Way Kanan, TELLISIK.ID – Dari cerita lisan ke karya tulisan, langkah kecil Minarno, pegiat sejarah dan budaya asal Way Kanan, kini membuahkan hasil. Ia berhasil menembus deretan 8 peserta terbaik dalam Sayembara Novela Berbasis Sejarah & Budaya Lampung yang digelar Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Adhisa Adhwangsa, dan Lampung Literature. Sayembara yang diikuti 43 peserta dari berbagai daerah di Lampung itu menyaring hanya delapan orang terbaik untuk melangkah ke tahap berikutnya. Salah satunya adalah Minarno yang mewakili Kabupaten Way Kanan, daerah yang kaya akan kisah perjuangan, tradisi, dan budaya lisan yang selama ini jarang terdokumentasikan dalam bentuk tulisan, Minggu (7/9/2025).
Dalam karyanya, Arno (sapaan akrabnya) mencoba menuliskan tentang Kampung Gunung Sangkaran, sebuah kampung tua di Way Kanan yang menyimpan banyak kisah sejarah dan budaya. Bagi Arno, menuliskan kampung ini adalah cara sederhana untuk menjaga jejak-jejak lisan agar tetap hidup dalam bentuk tulisan.
“Saya hanya ingin sejarah dan budaya Way Kanan ada dalam tulisan. Selama ini kita lebih banyak mengenalnya lewat cerita lisan. Kalau tidak ditulis, bisa saja lama-lama terlupakan. Saya berharap karya kecil ini bisa menjadi awal,” ujar Arno.
Ke depan, Arno bersama tujuh finalis lainnya akan menjalani proses pendampingan untuk menyempurnakan karya. Harapannya, karya mereka bukan sekadar novel pendek, melainkan catatan penting yang memperkaya literatur tentang budaya Lampung.
Terpilihnya Arno menjadi bukti bahwa menjaga sejarah dan budaya bisa dimulai dari langkah sederhana, namun memberi arti besar agar warisan daerah tidak hilang ditelan waktu.(**)












